Tempuh 8 Jam Setiap Hari ke Sekolah, Siswa-Siswi ini Bingung Bercita-Cita

0
172

Demi merengkuh cita-citanya, Saidi bertekad tak menyerah. Dia juga ikhlas jalan kaki pulang pergi delapan jam ke sekolahnya SMPN 2 Satu Atap (Satap) di Desa Hinas Kiri Kecamatan Batangalai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

“Saya punya tekat, tak boleh menyerah. Saya harus pintar. Harus lulus sekolah, minimal sampai SMA atau SMK,” tegasnya.

Dari sisi usia, dia harusnya sudah lulus SMA. Namun berbagai kendala menghalanginya. Antara lain, sejak SD, Saidi harus membantu orangtua bekerja di ladang. Dampaknya, dia tak bisa belajar dengan teratur.

Berkat kesadaran dan motivasi dari para guru di sekolah dasar, Saidi dan empat temannya akhirnya bisa melanjutkan ke SMPN 2 Satap. Namun di tengah perjalanan, empat teman sekampungnya menyerah dan memilih berhenti.

“Mereka memilih putus sekolah karena tak kuat tiap hari jalan kaki, yang lumayan jauh,” tutur Saidi.

Saat ini Saidi masih bingung hendak meneruskan ke mana jika lulus nanti. Sebenarnya dia berminat masuk SMK. “Tapi untuk ke SMK, jaraknya jauh dan butuh biaya hidup serta indekos di Barabai,” ujarnya.

Sedang SMA terdekat ada di Batangalai Timur yakni SMAN 9. Sekolah ini juga punya asrama. Oleh karena itu saat ditanyak cita-citanya, Saidi bingung. Sementara ini dia memikirkan kelanjutan sekolahnya. “Maunya saya, jika lulus sekolah bisa bekerja dan mengubah nasib keluarga,” katanya.

Bagi warga perkotaan, apalagi di Pulau Jawa, trasportasi sudah tidak menjadi masalah. Mulai dari transportasi umum, hingga kendaraan pribadi. Akses jalan pun mudah. Jalan rata-rata mulus.

Beda dengan nasib saudara kita di Kecamatan Batangalai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan.

Jadi, untuk ke sekolah anak-anak setempat harus berjuang keras, jalan kaki pulang pergi 8 jam sehari! Namun, mereka tetap semangat untuk bersekolah

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here