Digelar 28 Oktober 2017, 4,5 Juta Mahasiswa Akan Ikuti Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme

0
885
Darmaningtyas, pengamat pendidikan. (Darmaningtyas.blogspotcom)

Jakarta, MENTARI.ONLINE – Kampus selama ini dijadikan incaran utama dalam penyebaran radikalisme. Karena itu harus ada upaya luar biasa dan terus menerus untuk membentengi sekaligus mengikis paham kekerasan itu di kampus.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memberikan imunitas bagi para mahasiswa dan mahasiswi agar terhindar dari ‘serangan’ radikalisme. Diantaranya adalah Aksi kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme yang akan diikuti 4,5 juta mahasiswa di seluruh Indonesia pada 28 Oktober 2017.

“Aksi ini merupakan langkah tepat menanamkan nasionalisme sekaligus menyingkirkan virus radikalisme,” ujar pengamat pendidikan Darmaningtyas, Selasa (17/10/2017) dalam keterangan tertulis Badan Nasional Penanggulangan Teroris.

Sebelumnya, panitia pengarah ‘Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme’, Prof Dr H Zainal Abidin, MAg mengatakan, dalam aksi yang dihadiri lebih dari 3.000 pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia, di Nusa Dua Bali pada 25-26 September 2017 lalu, dalam rapat plenonya telah menyepakati secara bulat materi deklarasi kebangsaan dan menyosialisasikannya di setiap wilayah.

Bentuk atau instrumen sosialisasinya dilakukan dalam bentuk kuliah akbar aksi kebangsaan perguruan tinggi melawan radikalisme secara serentak se-Indonesia pada 28 Oktober 2017.

Selain menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila dan agama yang benar kepada mahasiswa, Darmaningtyas juga mengimbau kepada pemerintah, terutama Kementerian Riset dan Dikti, melakukan program pertukaran pelajar antara daerah.

Darmaningtyas, pengamat pendidikan. (Darmaningtyas.blogspotcom)

Upaya ini dinilai sangat tepat untuk menangkal radikalisme sekaligus menanamkan rasa nasionalisme dan kebhinnekaan kepada para pelajar maupun mahasiswa supaya lebih mencintai Tanah Air.

Darmaningtyas mengemukakan, jauh lebih mudah untuk menanamkan nasionalisme kepada generasi penerus dengan mengalami hidup secara langsung di daerah lain, ketimbang memberikan pemahaman melalui pembelajaran kepada mereka di kampus atau sekolah.

“Saya pikir mengalami hidup langsung di daerah lain lebih mudah membangkitkan nasionalisme pelajar atau mahasiwa. Mereka akan mencintai wilayah di mana mereka pernah tinggal, karena mengetahui adat istiadat dan merasakan hidup di wilayah itu secara langsung,” kata Darmaningtyas.

Dia mencontohkan, pemerintah bisa mengirimkan pelajar atau mahasiswa dari Pulau Jawa ke Papua atau sebaliknya untuk belajar selama enam hingga 12 bulan.

“Pola ini saya pikir jauh lebih efektif untuk menanamkan rasa nasionalisme kepada para generasi muda kita. Melalui  pertukaran pelajar atau mahasiwa mereka bisa mengalami langsung kehidupan di daerah orang lain, dan akan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air. Ini yang harus dilakukan pemerintah,” kata Darmaningtyas. (Joe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here