UMS Harus Kembangkan Cara Berpikir Sintesis

0
332
Dewan Pengawas BPJS M. Aditya Warman MBA menerima sertifikat pembicara dari Wakil Direktur Bidang I Sekolah Pascasarjana UMS, Farid Wajdi Ph.D.

Solo, MENTARI.ONLINE—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dianjurkan untuk melakukan inovasi berpikir dari kebiasaan berpikir hipotesis ke kebiasaan berpikir sintetis. Jika tidak, UMS hanya akan menghasilkan para pencari kerja bertitel akademik sarjana.

‘’Di kampus sebesar UMS ini sudah bukan jamannya lagi berkutat pada  pola berpikir hipotesis, tetapi harus mulai mengembangkan cara berpikir yang lebih dalam dan lebih komprehensif yaitu pola berpikir sintesis,’’ kata Dewan Pengawas BPJS M. Aditya Warman MBA dalam seminar interdisipliner sharing bertajuk ‘”Dinamika Bisnis dalam Era Digital dan BPJS Ketenagakerjaan” di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UMS Pabelan, Sukoharjo, Kamis (26/10/2017).

Acara yang dibuka Direktur Sekolah Pascasarjana UMS Prof Dr Bambang Sumardjoko M.Pd dan dipandu Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMS Farid Wajdi Ph.D ini dihadiri ratusan mahasiswa pasacasarjana. Acara ini sangat menarik karena informasi dan pemikiran yang disampaikan Aditya sangar relevan dengan persoalan aktual yang dihadapi dunia perguruan tinggi.

Aditya yang juga alumni Fakultas Psikologi UMS ini mampu menarik perhatian para mahasiswa karena materi yang disampaikan diperkaya dengan pengalaman dia sebagai eksekutif di PT Astra International Tbk. Menurut dia, UMS memiliki modal untuk menghasilkan para master yang berkarakter.

Dewan Pengawas BPJS M. Aditya Warman MBA menerima sertifikat pembicara dari Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMS Farid Wajdi Ph.D

Namun kelemahannya, UMS belum berhasil mendorong para mahasiswanya untuk gemar mendengarkan dan membaca. Akibatnya, daya analisis para sarjananya kurang tajam dan kurang memiliki kemampuan menjadi eksekutor.

“Padahal, hari ini yang dibutuhkan bukan para pencari kerja, tetapi para sarjana yang berani mengambil inisiatif bertindak sebagai eksekutor,’’ katanya.

Untuk bisa menjadi eksekutor,  katanya, minimal harus memiliki talent opportunity yaitu kompetensi dan karakter. Pada level tertentu, para sarjana yang memiliki kompetensi dan karakter ini akan memiliki kemampuan membawa pemikirannya ke dalam hati.

“Orang-orang seperti inilah yang kesuksesannya berbuah kebahagiaan,’’ katanya. (Alfian Mujani|mentari.online)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here